Tutut, Enak Sih..Tapi...😊
Tutut adalah salah satu sumber pangan kaya protein, tapi jika pengolahannya tidak cukup benar, ia bisa jadi perantara parasit masuk ke tubuh manusia.
(JASMINE Foodnews) Keong sawah (Pila ampullacea) adalah sejenis siput air yang mudah dijumpai di perairan tawar Asia tropis, seperti di sawah, aliran parit, serta danau.
Hewan bercangkang ini dikenal pula sebagai Keong gondang, siput sawah, siput air. Di Jawa Barat dikenal dengan nama Tutut. Bentuk keong sawah agak menyerupai siput murbai, masih berkerabat, tetapi keong sawah memiliki warna cangkang hijau pekat sampai hitam.
Dulunya Makanan Penduduk Desa
Menurut Bobo.grid, dulunya makanan jadul seperti Tutut ini merupakan makanan favorit penduduk desa. Karena daging tutut memiliki tekstur kenyal, hampir mirip dengan ampela ayam. Rasanyapun gurih dan enak .
Tutut biasanya diambil dari sawah oleh ibu-ibu buruh tani yang bertugas membersihkan tanaman liar di sawah. Mereka mencabut gulma, yaitu tanaman liar yang kecil-kecil seperti rumput dan eceng.
Setelah dicabut, gulma akan diinjak hingga terbenam di dalam lumpur. Tanaman itu akan mati dan membusuk lalu menjadi pupuk buat tanaman padi. Jika para petani menemukan tutut, tutut itu diambilnya lalu ditaruh dalam kantong.
Tutut kemudian pada akhirnya bisa menjadi penghasilan tambahan bagi penduduk desa khususnya petani. Atau bisa juga sekedar untuk konsumsi keluarga mereka sendiri. Tutut bisa dimasak menjadi lauk, teman nasi. Biasanya dimasak di dalam kuah kuning bersama dengan cangkangnya. Kalau mau dimakan, daging tutut enaknya dengan cara disedot.
Karena sekarang telah diketahui bahwa kandungan protein daging tutut itu cukup tinggi, begitu juga kalsium dan kandungan gizi lainnya, maka Tutut jadi naik “derajatnya.” Sekarang tutut tidak hanya dimakan di kampung, orang kota pun akhirnya menyukainya.
Olahan tutut banyak dijual, baik di restoran sunda yang mewah maupun di gerobak-gerobak di pinggir jalan. Rasanya pun bervariasi. Selain kuah tutut original, ada tutut kuah santan, tutut lada hitam, atau tutut saus tiram. Makannya tidak lagi disedot, melainkan dicongkel dengan tusuk gigi. Nikmat sekaligus seru ketika memakannya.
Mengandung Kadar Protein Tinggi
Dilansir dari ayobandung.com, makanan jadul yang satu ini tidak hanya nikmat dan seru saat disantap, namun ternyata memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.
Menurut hasil seminar nasional Riset Pangan, Obat-obatan dan Lingkungan untuk Kesehatan dari Pusat Penelitian Liminologi (LIPI), menunjukan tutut mengandung kadar protein yang tinggi, kandungan mineral dan kolesterolnya juga menunjukan Tutut memiliki nilai gizi yang baik bahkan melebihi lobster.
Tutut merupakan olahan tradisional yang digemari hampir setiap orang, khususnya di Jawa Barat. Meskipun begitu, Tutut tidak hilang tergerus zaman, melainkan berkembang menjadi makanan yang lebih kaya rasa.
Salah satu pedagang Tutut di kawasan Cibiru, Opan (30), mengaku telah tiga tahun menjajakan tutut dengan citarasa gurih dan pedas. Menurutnya banyak pelanggan yang ketagihan untuk menikmati olahan tutut ini, dengan tiga level pedas dari mulai original, lada saetuik ( sedikit pedas) hingga lada kacida (sangat pedas). Perasan jeruk nipis dalam bumbu tutut, menambah rasa segar saat menyantapnya.
Menurut Opan, alasannya menjual Tutut karena belum banyak yang berjualan,. Selain itu berjualan tutut juga dianggap mengenang makanan jadul sejak kecil.
“Karena belum banyak yang jualan tutut, masih jarang kan. Beda sama cilok, bakso atau makanan lain”, tuturnya saat ditemui dilapak dagangannya.
Pembelinya Beragam
Pembeli yang datangpun beragam, dari mulai mahasiswa hingga masyarakat yang sengaja berhenti saat berkendara.
Salah satunya Tia (18) yang megatakan cara mengonsumsi tutut dinilai unik.
“Suka sih, enak rasanya. Terus saya suka cara makannya yang harus dihisap, bahkan kadang perlu perjuangan, ya itu yang bikin unik”, katanya, Jumat (19/10/2018).
Jajanan yang dinamai Tutut Laser (Lada dan Segar) ini dapat dijumpai di kawasan Jalan A.H Nasution, tepatnya di depan UIN Bandung atau di kawasan Gedebage. Cukup merogoh Rp 10ribu saja, anda dapat menikmati gurihnya tutut laser ini yang buka sejak pukul 16.00 hingga 23.00 WIB.
Berbahaya Jika Pengolahannya Tidak Cukup Benar
Dilansir dari tirto.id , Keong sawah atau yang lazim kita sebut tutut sempat disebut-sebut oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dalam sebuah berita Tempo.co, sebagai alternatif pangan. Hewan yang hidup di perairan tawar Asia tropis, seperti sungai, sawah, danau, atau rawa-rawa ini punya kandungan gizi tinggi. Hanya saja, butuh ketelatenan dalam mengolahnya. Jika tidak, bisa-bisa ia malah jadi perantara penyakit.
Cukup dengan selembar uang Rp 5.000, Anda sudah bisa mendapatkan satu kantong besar tutut kuah kuning. Ia mudah dijumpai di pinggiran kota, dijajakan pedagang kaki lima dalam sebuah panci besar yang terus dipanaskan. Rasanya yang gurih, mirip kerang laut dengan tekstur lebih kenyal, membuat makanan ini disukai masyarakat. Namun, tutut bisa jadi berbahaya ketika tak diolah dengan benar.
Pengolahan tutut yang kurang bersih ditengarai menjadi penyebab keracunan pada 108 orang warga Bogor. Menurut berita kompas.com, mereka mengeluhkan mual, pusing, muntah-muntah, hingga demam tinggi sesaat setelah menyantap olahan tutut ketika berbuka. Mayoritas korban adalah anak-anak yang memiliki sistem kekebalan tubuh lebih lemah.
Lumpur Tempat Perkembang Biakan Ideal
Habitat tutut di perairan dan lumpur membuat hewan ini menjadi tempat ideal bagi cacing untuk bertelur dan berkembang biak. Singkatnya, jika tutut yang masih terkontaminasi parasit termakan manusia, cacing atau larva tersebut akan berpindah rumah dari tutut ke tubuh manusia.
Migrasi tersebut mengakibatkan berbagai macam efek penyakit, tergantung pada jenis cacing dan organ yang terinfeksi. Jika perkembangannya berada di usus dan saluran empedu, organ tersebutlah akan mengalami luka dan infeksi yang menyebabkan diare.
Kondisi serupa akibat infeksi cacing Schistosoma pada hati disebut demam keong. Penyakit ini disebabkan oleh cacing Schistosoma yang hidup di daerah dengan arus air ringan atau diam dan tak terkena sinar matahari. Penderitanya mengalami perut buncit akibat peradangan hati dengan gejala mual muntah. Bahkan, kematian bisa menjadi akibat paling fatal.
Sementara itu, infeksi akibat cacing Angiostrongylus cantonensis yang termakan dari tutut bisa mengakibatkan meningitis. Tikus adalah inang utama cacing jenis tersebut, larva cacing Angiostrongylus cantonensis dapat menyebar ke hewan moluska seperti tutut melalui kotoran tikus yang dimakan hewan tersebut.
Cacing Bisa Sampai Di Otak Manusia
Ketika tutut dimakan oleh manusia, terjadilah transfer parasit. Cacing dalam tubuh dapat mencapai otak dengan menggali penghalang luar yang melindungi otak manusia. Saat terjebak di otak, ia akan terus menggali dan merusak fisik otak, menyebabkan peradangan ketika sistem kekebalan tubuh melawan balik. Akibatnya, ia menimbulkan sakit kepala, kaku leher, muntah, dan demam ringan.
Tingkat bahaya penyakit ini bergantung dari jumlah larva yang tertelan, lokasi infeksi cacing, serta respons tubuh melakukan perlindungan. Yang perlu diwaspadai, transfer parasit tidak hanya terjadi akibat konsumsi tutut, melainkan kontaminasi lendir ke mulut atau luka terbuka. Lazimnya jika terserang parasit ini, dokter akan meningkatkan imun pasien agar sistem kekebalan tubuh melawan pergerakan cacing tersebut.
Mollusca Pembawa Banyak Parasit
Seorang ahli parasit dari Universitas Florida, Heather Stockdale Walden mengatakan hewan Moluska membawa banyak parasit. Hewan ini tak hanya menularkan parasit pada manusia. Di Florida, anjing, burung, orang utan, serta berbagai binatang liar lain juga ikut terinfeksi. Ia diyakini menjadi penyebab kematian owa-owa putih (sejenis primata) di Kebun Binatang Metro Miami pada tahun 2004.
“Parasit ingin [mendiami] inang yang akan dimakan. Siput [dalam hal ini termasuk tutut] adalah makanan untuk banyak hewan, termasuk burung," demikian kata Walden seperti ditulis National Geographic.
Meski begitu, ternyata hewan-hewan Moluska seperti Tutut dan kerabatnya memiliki kelebihan sebagai sumber pangan alternatif. Binatang-binatang ini kaya nutrisi, terutama protein. Dari 100 gram daging tutut terdapat 83 kalori, 12,2 gram protein, 6,6 gram karbohidrat, 61 mg fosfor, 40 mg sodium, 17 mg potasium, 12 mg riboflavin, 1,8 mg niacin, dan ash sebanyak 3,2 gram.
Cara Mengolah Tutut Yang Benar
Guna mendapat manfaat nutrisi dari tutut tanpa terinfeksi parasit, ada beberapa cara yang harus diperhatikan dalam mengolah hewan ini.
Pertama, sebelum dimasak, masukkan tutut ke dalam wadah kosong tanpa makanan selama 2 hari. Tujuannya adalah mengosongkan usus yang menjadi rumah parasit.
Kedua, masukkan tutut dalam air mendidih setidaknya selama tiga menit, atau bekukan untuk membunuh sisa cacing. Kemudian, cabut tutut dari cangkang dengan kail, keluarkan tubuh dan usus tutut. Anda cukup memakan bagian kakinya saja karena organ dalamnya cenderung kurang enak, terutama kelenjar albumen. Cara ini cukup sederhana, tapi bisa mengurangi risiko Bunda, Bro n Sis diserang parasit dari Tutut.
=====
Untuk info & pemesanan Cake & Cuisinenya , telp/WA 08128637867 (Tia), 08128697750 (Wildan)
Atau klik aja :
Sila intip menu yang available :
http://bit.ly/JCandCui
======
Jasmine Foodnews dibuat sebagai bentuk kepedulian kita terhadap kuliner di Indonesia terutama yang tradisional dan sudah jarang ditemukan orang. Juga hal-hal yang terkait dengan seputar dunia kuliner.
======
Jasmine Foodnews dibuat sebagai bentuk kepedulian kita terhadap kuliner di Indonesia terutama yang tradisional dan sudah jarang ditemukan orang. Juga hal-hal yang terkait dengan seputar dunia kuliner.




Comments
Post a Comment