Manisan Cianjur, Warisan Asli Nenek Moyang Yang Harus Dipertahankan
(JASMINE Foodnews) Bicara mengenai keragaman budaya Cianjur, maka Manisan Cianjur ini tidak akan pernah lepas dari bahasannya. Manisan ini merupakan warisan asli nenek moyang yang sebaiknya dipertahankan sampai kapanpun.
Dikutip dari gatra.com , seorang sejarawan asal Kabupaten Cianjur, Luki Muharam mengatakan, manisan Cianjur mulai muncul pada tahun 1950-an. Bukan berasal dari orang-orang pribumi, ide untuk membuat manisan buah khas Cianjur justru muncul dari orang-orang keturunan Tionghoa yang hidup di Indonesia.
"Manisan ini muncul sekitar tahun 50-an, yang bawa orang-orang turunan Tionghoa yang merantau ke sini," kata dia saat ditemui di kawasan Jalan Hos Cokroaminoto, Cianjur.
Menurut kisah yang diceritakan Luki, dulunya Cianjur ditanami banyak pohon kapas. Namun,seiring berjalannya waktu, orang-orang keturunan Tionghoa yang datang tersebut mulai menanami lahan-lahan kosong dengan pohon mangga dan murbei.
Cianjur sendiri ternyata merupakan tempat yang subur karena tanahnya memiliki daya dukung yang baik untuk buah-buahan. Buah-buah segar setiap musim bisa dipanen dengan hasil yang membanggakan.
Produksi buah yang melimpah, membuat buah mangga dan murbei banyak yang berjatuhan dan berkhir busuk di atas tanah. Melihat hak tersebut, mereka kemudian mencoba untuk mengawetkan buah-buahan yang sudah masak dengan menggunakan campuran air, gula dan garam untuk menjadikannya manisan.
"Nah awalnya itu mereka cuma membuat manisan dari mangga dan murbei yang pada saat itu memang jumlahnya berlimpah. Mereka olah, mereka jadikan manisan," kisah Luki di depan toko manisan tertua di Cianjur, toko manisan Khas Ny. Tan.
"Yang pertama membuat manisan, ya Ny. Tan ini," lanjut dia. Setelah sekian lama, baru lah muncul inovasi-inovasi baru manisan dari berbagai buah. Mulai dari buah pala, salak, dan masih banyak lainnya. Sementara itu, Luki menjelaskan, buah yang sudah dijadikan manisan, dapat bertahan di suhu ruangan hingga seminggu lamanya.
Melalui serangkaian proses yang cukup panjang, buah-buahan yang semula mudah membusuk karena sinar matahari atau kesalahan pada saat panen, menjadi lebih awet. Cita rasa yang dihasilkan pun khas, yakni jauh lebih manis dikombinasikan dengan rasa masam buah.
Manisan Cianjur Sempat Naik Kelas
Dikutip dari m.liputan6.com, walau terlihat sama, sebenarnya manisan Cianjur memiliki tiga jenis, yakni manisan cair/basah, manisan kering, dan manisan setengah kering. Manisan basah biasanya terdiri dari mangga, salak, dan kedondong.
Sementara, manisan kering di antaranya pala, pepaya, dan mangga. Terakhir, buah yang biasa diolah jadi manisan setengah kering adalah ceremai, belimbing, dan ceri.
Awalnya, semua jenis makanan khas Cianjur, termasuk manisan, merupakan konsumsi masyarakat dengan status sosial menengah ke bawah. Namun pada saat ini, manisan sudah dikonsumsi semua lapisan masyarakat.
Hal itu ditandai dengan tak hanya dijual di toko-toko kecil, tetapi juga masuk ke supermarket-supermarket yang ada di Cianjur. Bahkan, banyak juga yang memakai sebagai menu pelengkap dalam rangka hajatan di hotel-hotel berbintang.
Manisan Cianjur juga mulai terkenal sejak dikunjungi oleh istri Presiden Soekarno. Demikian menurut salah satu generasi perintis manisan Cianjur dari keluarga Ny. Tan,
Toko Manisan Mulia Sari Nyonya Tan
Dikutip dari kompas.com, manisan Cianjur pertama didirikan oleh Mulyawati wanita keturunan Tionghoa yang sering dipanggil Ny Tan . Ia berjualan sejak tahun 1950-an. Toko Manisan Ny. Tan bernama Manisan Mulia Sari yang berada di Jl. Hos Cokroaminoto no. 205, Cianjur.
Toko manisan ini terkenal dan melegenda di Cianjur,menjual manisan seperti manisan salak, mangga, kedondong, pala. Selain itu, rasanya variatif, ada yang manis saja dan adapula yang pedas manis.
"Kalau buah-buahnya kita pakai buah dari Indramayu, salak, mangga, kedondong, pala," jelas salah satu pegawainya.
Buah-buahan yang diolah merupakan buah dengan kualitas pilihan yang didatangkan dari Indramayu, dan juga mengunakan air bersih yang sudah matang. Dijamin sehat dan tak diolah dengan pemanis buatan.
"Dikasih air, kalau di sini mengunakan air ledeng, kalau pakai air sumur buahnya jadi jelek, gulanya pakai gula pasir," papar salah satu pegawai
Manisan dari Ny Tan ini mengunakan bahan sederhana hanya garam dan gula, setelah itu diberi air dan didiamkan selama seminggu.
Hingga masuk generasi ke-3 dan ke-4, produsen masih mempertahankan keaslian manisan Cianjur dengan tidak menggunakan bahan pengawet.
Manisan yang paling sering dipesan dan dibeli oleh pengunjung adalah manisan salak dan mangga.
Rasa yang dihadirkan manis serta sedikit asam, dan terasa segar dari potongan buah. Selain rasa manis, jika pelanggan ingin merasakan pedas juga bisa ditambah dengan cabe ulek. Yang menambah rasa menjadi pedas manis, seakan menggigit lidah dan siap membuat penikmatnya ketagihan.
Harga jual rata-rata manisan buah di sentra ini berkisar Rp 40.000 - Rp 100.000 per kilogram. Bagi konsumen tidak diterapkan minimal order. Namun jika ada pengiriman ke luar Cianjur biasanya ongkos kirim dibebankan ke pembeli.
Cara Membuat Manisan Cianjur
Dilansir dari apasih.web.id, untuk membuat manisan ini, sebenarnya metode pembuatannya cukup mudah. Dibutuhkan setidaknya tiga hal, yaitu bahan utama, bumbu, serta wadah yang tepat.
Untuk bahan-bahannya, buah-buah segar yang telah tua menjadi pilihan utama. Buah seperti ini akan mencegah timbulnya hasil yang keriput.
Sementara bumbu yang dibutuhkan adalah garam, gula putih, cuka, air kapur sirih, serta bumbu tambahan lainnya.
Garam yang dipilih adalah garam yang tidak mengandung vetsin. Tujuannya adalah supaya tidak menghambat proses pengawetan.
Sementara gula putih sendiri dimaksudkan sebagai pemanis, kemudian warna putih ini ditujukan agar hasil jadi manisan tidak berubah menjadi cokelat gelap.
Cuka diusahakan tidak memiliki tingkat keasaman yang tinggi. Sementara air kapur sirih dimasukkan untuk menciptakan kesan lebih renyah.
Setelah bumbu, wadah untuk membuat sekaligus menyimpan hasil jadi manisan yang dibuat. Peralatan ini contohnya adalah panci, kemudian toples untuk menyimpan hasil manisan.
Jika semuanya telah tersedia, hal yang tidak boleh dilewatkan adalah proses pengolahan. Anda perlu mengetahui metode dalam pembuatan manisan khas ini.
Metode pertama adalah dengan memilih buah. Buah-buah yang telah dipilih, bahkan dikupas sebaiknya dicuci sebelum direndam.
Metode kedua adalah meniriskan buah-buah yang telah direndam. Proses penirisan ini biasanya menggunakan ayakan bambu.
Metode ketiga adalah penjemuran. Hasil jadi ini adalah untuk manisan kering. Biasanya dijemur di teriknya matahari. Ada juga yang menggunakan oven untuk mengeringkannya.
Ketiga metode ini tentu melibatkan proses pengolahan seperti mengolah buah dengan bumbu-bumbu yang telah disediakan. Contohnya adalah proses perendaman buah terhadap bumbu gula yang bakal memberikan cita rasa lebih manis.
Setelah mendapatkan hasilnya, Anda tinggal menyimpannya di dalam wadah yang tertutup. Kemudian simpan di lemari es agar lebih tahan lama.
Sebagian Besar Produksi Jakarta
Dikutip dari tribunnews.com, ada fenomena menarik saat ini terkait manisan Cianjur. Manisan khas Cianjur yang sekarang dijual di sejumlah kios oleh-oleh di Kabupaten Cianjur ternyata banyak dipasok dari luar daerah. Hanya 20 persen pedagang oleh-oleh yang ada di Kabupaten Cianjur menjual manisan buatan perajin asal Kabupaten Cianjur.
"Sisanya 80 persen dipasok dari Jakarta," ujar perajin manisan Muhammad Aceng Komarudin (43), di RT 1/1 Kampung Cijoho, Desa Cikaroya, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur.
Pria yang juga Ketua Asosiasi Pengolahan Hasil Tanaman Pangan dan Hortikultura ini mengatakan, manisan hasil perajin asal Kabupaten Cianjur lebih banyak dijual ke luar daerah ketimbang di Kabupaten Cianjur. Di antaranya Tangerang, Kalimantan, Batam, Bandung, Bogor, Karawang, Purwakarta, Sumedang, Garut, dan Tasikmalaya.
"Ini karena kepedulian pemerintah terhadap produk manisan buatan perajin Kabupaten Cianjur masih kurang. Belum ada pengakuan seperti di Depok, yakni belimbing. Padahal manisan sendiri bisa juga menjadi ikon Kabupaten Cianjur," ujar pria yang akrab disebut Komarudin itu.
Komarudin menambahkan, dipasoknya manisan dari Jakarta ke sejumlah toko oleh-oleh di Kabupaten Cianjur disebabkan harganya lebih murah ketimbang buatan perajin asal Kabupaten Cianjur. Manisan asal Jakarta per kilonya dihargai Rp 18 ribu. Sedangkan manisan asli buatan perajin asal Kabupaten Cianjur dihargai Rp 20-25 ribu.
"Kalau dari segi daya tahan lama jauh beda. Itu kenapa ada pemberitaan penggunaan zat pengawet untuk manisan sehingga juga berdampak terhadap tingkat penjualan manisan ini yang ikut melesu. Mungkin berbeda kalau pemasoknya diawasi dan terdaftar oleh pemerintah Kabupaten Cianjur," ujar Komarudin.
Selain itu, lanjut Komarudin, manisan yang dibuat perajin asal Kabupaten Cianjur menggunakan buah yang sudah masak. Itu sebabnya manisan buatan perajin asal Kabupaten Cianjur harganya tak menentu bergantung dengan harga bahan baku. Sementara manisan dari Jakarta diduga menggunakan buah yang masih mentah sehingga harganya bisa lebih murah.
"Kalau lagi musim panen buah bisa murah harganya. Untuk mangga misalnya, bisa Rp 2.000 per kilonya kalau lagi musim. Tapi kalau sulit atau lagi tidak musim harganya buahnya pasti ada selisih. Selisihnya bisa sampai Rp 6.000," ujar Komarudin.
Komarudin menyebut, manisan Cianjur sudah selayaknya menjadi ikon Kabupaten Cianjur seperti halnya Tahu Sumedang. Meski di jual di luar Sumedang, warga mengetahui jika tahu berkulit cokelat itu merupakan Tahu Sumedang
Apalagi manisan Cianjur sudah menjadi makanan yang paling dicari pengunjung di berbagai acara pameran makanan tradisional ketika mendatangi stand Kabupaten Cianjur.
"Kami juga berharap ada suatu tempat penjualan oleh-oleh yang terpusat di mana makanannya juga harus hasil perajin dari Kabupaten Cianjur," ujar Komarudin.
Adapun perajin manisan asal Kabupaten Cianjur terhitung ada 10 orang yang tersebar di Kecamatan Cianjur, Kecamatan Karangtengah, Kecamatan Gekbrong, dan Kecamatan Karangtengah.
Usaha Rumahan Yang Coba Bertahan
Dilansir dari m.liputan6.com, sebelum Tol Cipularang dibuka, banyak pengguna jalan yang hendak ke Bandung atau ke Jakarta sengaja mampir membeli manisan buah sebagai oleh-oleh. Toko-toko penjual manisan hampir selalu bisa ditemukan di jalur utama.
Setelah jalan tol dibuka, pesona manisan Cianjur ikut meredup. Tapi bukan berarti manisan Cianjur tak lagi laku. Di samping yang usahanya tutup , ada juga yang usaha manisannya mampu bertahan.
Ada saatnya toko-toko yang masih mampu bertahan ini ramai pembeli. Hal ini mengakibatkan, produsen manisan dan asinan di Desa Cikaroya, Kecamatan Warungkondan, Cianjur, Jawa Barat, kebanjiran pesanan, di saat-saat menjelang perayaan Natal dan libur Tahun baru ,
"Biasanya pada saat itu produksi manisan dan asinan meningkat tajam karena tingginya pesanan dari pemilik toko di Cianjur dan beberapa wilayah Jabar,” kata Aceng Komarudin (48) pemilik usaha manisan dan asinan di Cikaroya.
Menjelang Natal dan Tahun Baru volume produksi biasanya meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Sejak jauh hari, pemilik toko yang berjajar di sepanjang Jalan Dr Muardi-By Pass Cianjur, telah menambah pesanan untuk stok.
Pada hari biasa, pihaknya hanya memproduksi 100 kilogram manisan dan asinan per hari,tetapi sejak dua pekan terahir produksi meningkat hingga 200 kilogram per hari.
"Buah mangga, salak, dan kedongdong merupakan manisan atau asinan yang paling banyak dicari pembeli terutama wisatawan atau pengendara yang melintas di jalur Puncak-Cianjur," katanya
Usaha Manisan Cianjur Jangan Sampai Hancur
Dikutip dari pikiranrakyat.com, dari masa kejayaan manisan Cianjur beberapa waktu lalu, saat sekarang hanya beberapa industri rumahan yang masih bertahan itupun bisa dihitung dengan jari.
Dari industri manisan rumahan yang mampu bertahan , salah satunya berlokasi di gang sempit. Yaitu di Gang Karya IV, Kelurahan Solokpandan, Kecamatan/Kabupaten Cianjur.
"Saya membuat manisan Cianjur sejak 21 tahun yang lalu. Namun, sejak tahun 1970-an sudah berkecimpung jadi pekerja pembuat manisan. Ya Alhamdulillah sampai sekarang masih ada dan bertahan meski mengalami penurunan omset yang tidak sedikit," kata Jaja Jaelani (57), salah seorang pembuatan manisan di lokasi tersebut.
Jaja juga mengaku tidak bisa memenuhi permintaan untuk seluruh jenis buah-buahan yang biasa dibuat manisan. Selain bahan baku yang musiman ada, manisan buatannya juga tak cepat habis karena pembeli semakin menurun.
Akhirnya ia mensiasati permintaan pelanggan, pihaknya membuat manisan dari buah lain, seperti bengkuang atau jenis buah-buahan yang pasokannya tidak mengandalkan musim.
Usaha rumahan yang dijalani Jaja ini pun mampu memproduksi rata-rata 500 kilogram buah dalam dua sampai tiga hari. Para pekerjanya pun borongan dari para tetangganya.
"Sekalian memberi peluang para pemuda di sini. Sekarang dapat pasokan buah 500 kg juga susah. Tahun ini paling susah, biasanya kalau gampang, dua ton juga kami produksi," tuturnya.
Usahanya yang dijalani sejak 1992 ini, kata Jaja, merupakan upaya dirinya untuk mempertahankan salah satu oleh-oleh khas Cianjur yang bisa dijadikan kebanggaan.
“Manisan yang dijual di toko, tidak semuanya dari Cianjur, ada juga dari daerah lain. Tapi kan jadi lucu, namanya manisan Cianjur, tapi dibuatnya dari daerah lain. Makanya, saya akan tetap bertahan menjalankan usaha ini," katanya.
Sejauh ini, Bunda , Bro n Sis bisa menjumpai jajanan khas cianjur ini di berbagai tempat di Cianjur. Terutama di warung-warung.
Manisan tersebut ditempatkan di dalam sebuah wadah/toples, manisan lebih berwarna, menjadikan manisan ini tampak lebih menggoda.
Meskipun dibilang menggoda, namun kenyataannya manisan ini sekarang kurang laku , selain karena berkurangnya pembeli akibat pembangunan tol Cipularang, kemudian muncul lagi wabah Covid 19 , ternyata kehadiran kudapan warisan nenek moyang ini juga mulai tersaingi oleh kemunculan manisan-manisan modern.
Entah sampai kapan manisan khas nusantara ini bisa bertahan. Yang pasti kita sendirilah Bun, yang harus ikut serta mempertahankan kelestarian usaha manisan khas Indonesia ini agar tetap terjaga sampai anak cucu. Kita berdoa, masa depan kudapan khas Cianjur ini jangan sampai hancur. .Aamin
=====
Untuk info & pemesanan Cake & Cuisinenya , telp/WA 08128637867 (Tia), 08128697750 (Wildan)
======
Jasmine Foodnews dibuat sebagai bentuk kepedulian kita terhadap kuliner di Indonesia terutama yang tradisional dan sudah jarang ditemukan orang. Juga hal-hal yang terkait dengan seputar dunia kuliner.






Comments
Post a Comment