Getuk, Tidak Semuanya Lindri



(JASMINE Foodnews)Dikutip dari wikipedia.com,Getuk (Hanacaraka:ꦒꦼꦛꦸꦏ꧀, bahasa Jawa: gethuk) adalah kudapan yang bahan utamanya adalah  ketela pohon atau singkong. Saat ini Getuk merupakan makanan yang mudah ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pembuatan getuk diawali dengan singkong dikupas kemudian kukus atau perebusan, setelah matang kemudian ditumbuk atau dihaluskan dengan cara digiling lalu diberi pemanis gula dan pewarna makanan. Untuk penghidangan biasanya ditaburi dengan parutan buah kelapa.

Masyarakat saat ini pada umumnya mengenal dua macam getuk, antara lain ;

1/. Getuk, singkong yang sudah masak pada waktu suhu masih panas ditaburi potongan-potongan kecil gula jawa sehingga berwarna coklat tidak merata tumbukan getuk ini bentuknya kasar.

2/. Getuk lindri, singkong masak yang digiling halus dengan gula pasir, dibubuhi pewarna makanan dan vanili dan setelah itu dicetak kecil-kecil memanjang dan dirapatkan memanjang ini serupa dengan mie hingga berbentuk memajang dengan ketebalan sekitar 2cm lebar 4cm, setelah itu dipotong-potong berbentuk panjang sekitar 5cm dan lebar 4cm

Sedangkan kalau berdasarkan bahan pembuatnya , getuk bisa dibedakan antara lain:
1/.Getuk singkong, getuk yang terbuat dari bahan baku singkong
2/.Getuk ubi, getuk yang terbuat dari bahan baku ubi rambat
3/. Getuk talas, getuk yang terbuat dari bahan baku talas
4/. Getuk pisang, getuk yang terbuat dari bahan baku pisang

Getuk dulunya sering muncul pada acara-acara sakral seperti pernikahan.

Meskipun lambat laun kehadiran penganan ini mulai jarang ditemui terutama di kota-kota besar seperti kota Jakarta, getuk ini sesungguhnya sangat mudah dibuat dan rasanya pun enak di lidah. Serta memiliki banyak keistimewaan. Dikutip dari idntimes.com, keistimewaan itu antara lain:

1. Sejarah getuk berawal dari penjajahan Belanda

Getuk konon telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Seperti yang kita semua tahu, pada masa penjajahan itu, rakyat Indonesia sangat kesulitan mendapatkan makanan pokok, yakni beras. Sehingga masyarakat mencari pengganti makanan pokok beras dengan ketela, yang pada saat itu mudah dan banyak tumbuh di sekitaran.

Kemudian seorang pelopor yang berasal dari Desa Karet, Magelang, bernama Mbah Ali Mohtar berinovasi terhadap penganan berbahan dasar ketela ini, yang diberinya nama sebagai getuk. Mba Mohtar membuat getuk dengan rasa yang lebih enak dan tampilan yang lebih menarik. Nama 'getuk' sendiri diambil dari bunyi 'tuk-tuk' dari kegiatan menumbuk singkong hingga halus.

2. Asal usul nama pada getuk lindri

Nama lindri pada getuk lindri bukan merupakan nama seseorang atau pelopornya, melainkan proses penggulungan adonan yang dinamakan lindri. Menurut seorang sejarawan bernama J.FX. Hoery, ia menjelaskan sebutan 'lindri' berasal dari nama alat penggulung dari getuk, yakni lindri.

Singkong diproses hingga lembut, lalu keluar dari lindri dalam bentuk gulungan kecil, panjang dan memiliki serat yang berbentuk mie. Getuk ini kemudian dapat dipotong sesuai selera dan keinginan.

3. Keunikan dan rasa khas getuk lindri

Getuk lindri pada umumnya memiliki 3 warna, yakni warna dasar singkong; cream, merah muda dan juga hijau. Tapi semakin lama warnanya semakin beragam, sesuai dengan selera pembuatnya. Getuk lindri mempunyai keunggulan dibanding getuk lainnya, selain karena warnanya yang cantik, penganan satu ini juga memiliki aroma yang khas dan menggoda lidah karena menggunakan perpaduan daun pandan yang harum dan parutan kelapa yang gurih.

4. Filosofi yang muncul dari jajanan pasar yang enak ini

Selain bercita rasa yang enak dan menggugah selera, terdapat beberapa filosofi yang tercipta dari getuk lindri. Salah satu contohnya adalah getuk lindri mengajarkan arti dari kesederhanaan. Di mana getuk muncul akibat keterbatasan bahan makanan pokok beras pada masa penjajahan. Getuk juga memiliki filosofi tentang selalu bersyukur pada hal sederhana yang bisa lebih bermanfaat di sekitar kita.

5. Tradisi 'Gerebek Getuk' di Magelang

Masyarakat kota Magelang sebagai pelopor terciptanya getuk, memiliki ritual tahunan yang unik bernama "Gerebek Getuk", yang biasa diadakan di Alun-alun Kota Magelang. "Gerebek Getuk" ini juga merupakan tanda hari jadi kota Magelang. Pada ritual ini tentu saja getuk menjadi primadona yang disusun menjadi gunungan cantik berbagai warna yang kemudian diarak dan diperebutkan oleh masyarakat yang menyaksikan.

Terdapat dua gunungan yang diarak, yakni gunungan lanang (laki-laki) dan gunungan wadon (perempuan). Gunungan getuk yang berbentuk lancip merupakan simbol jaler atau laki-laki, sementara gunungan getuk yang lainnya berbentuk bulat, merupakan simbol setri atau perempuan.

"Gerebek Getuk" merupakan lambang dari kemakmuran. Tujuan dari ritual ini adalah menambah rasa persatuan dan kekompakan warga Magelang, serta menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal.

=====
 Untuk info & pemesanan Cake & Cuisinenya , telp/WA 08128637867 (Tia), 08128697750 (Wildan)
======
 Jasmine Foodnews dibuat sebagai bentuk kepedulian kita terhadap kuliner di Indonesia terutama yang tradisional dan sudah jarang ditemukan orang. Juga hal-hal yang terkait dengan seputar dunia kuliner.

Comments

Popular Posts